Sehari Setengah Malam Dengan Siputih Nan Kuning Lansat

January 10th, 2009 by thepolitea

Malam minggu ini saya benar-benar bingung mau ke mana, bete rasanya tinggal seharian dikamar bersama siputih nan kuning lansat. Sudah seharian ini dia menemani saya dan tak pernah berkata bosan padaku. Hmmm…… saya pun juga merasa kehilangan jika semenit tak mencium wanginya. Dasar Siputih nan kuning lansat kau benar-benar tak bisa kuhindari lagi.

Seharian tadi, dikamar yang berukuran 5×6 ini hanya ada saya dan dia serta sebuah komputerPentium II yang full musik. Seharian tadi, kunikmati dinginnya cuaca dan kerasnya hujan bersama siputih nan kuning lansat, bahkan berkali-kali saya harus ke kamar mandi untuk cuci muka karena siputih nan kuning lansat.

Siputih nan kuning lansat ini kukenal tiga bulan lalu di Gorontalo. Tak pernah kusangka saya dan dia akan sedekat ini, coba kau bayangkan bagaimana nikmatnya hidupku tadi siang, saya dan dia hanya berdua di dalam kamar. Kehangatan darinya cukup mengalahkan dinginnya siang tadi, percikan air hujan yang melalui jendela kamar tak ada artinya meski sesekali menerpa badanku.

Perkenalanku dengannya tiga bulan yang lalu itu berawal dari rasa bosan saya terhadap siputih nan kuning lansat yang lain dan akhirnya kutemukanlah siputih nan kuning lansat ini, dia pun kini tak pernah lepas dariku.

Kini sudah pukul 21.30 Wita, namun saya masih dikamar 5×6 ini, tak tau harus kemana…?!#@$%??? Benar-benar pusing kali ini, untung si putih nan kuning lansat slalu disini. Ohh…. Siputih nan kuning lansat kau benar-benar menyenangkanku setiap menit. Karena kau, kini kutak pernah tergoda lagi oleh siputih nan kuning lansat yang lain….., harummu, wangimu tiada tandingannya saat ini dan benar-benar membuatku jatuh cinta dan jatuh bangun.

Siputih nan kuning lansat kau memang sangat berarti saat ku butuh kehangatan kala kedinginan, bukan hanya itu, kau juga berarti saat saya selesai makan…. Bahkan kadang kusangat butuh kau saat ku di WC. Ohh…. Siputih nan kuning lansat walau banyak yang bilang kau tak berkelas karena hanya dengan modal tujuh ribu saya sudah bisa mendapatkanmu, tapi saat kau kubakar dan kuhisap…..sungguh nikmat dunia… meski merkmu hanya Countri “merah”

Mari bergabung di sini :

Kamus politik Online

Konsultasi kesehatan forum curhat

Tips keuangan, kesehatan dan politik

Survei Calon Presiden Favorit Pilihan Rakyat

Laptop 12 M

March 25th, 2007 by thepolitea

Di tengah krisis yang belum pulih dan makin terpruknya kesejahteraan rakyat akibat musibah beruntun, kini sebagian anggota dewan kita yang terhormat berpesta ria menyambut rencana pemberian tunjangan Laptop dengan nilai total 12 miliyar. Akankah ini terkabulkan sebagai pertanda matinya hati nurani wakil-wakil kita, Entahlah….?

Rencana pembelian Laptop senilai 12 M dikumandangkan sebagai langkah untuk memberi tunjangan fasilitas yang dapat meningkatkan efektivitas kerja orang-orang yang mengaku sebagai wakil rakyat tersebut. Rencana ini pun menuai protes dari berbagai kalangan. Di internal dewan sendiri hal tersebut tidak sepenuhnya disetujui, sebagian anggota dewan kita masih ada yang kontra terhadap rencana tersebut, namun yang pro lebih banyak. Jadi kemungkinan rencana ini akan menjadi kenyataan.

Sebenarnya pengadaan laptop sah-sah saja dan tak ada salahnya selema betul-betul digunakan sebagai fasilitas penunjang kerja oleh wakil-wakil rakyat tersebut. Namun, jika hal tersebut akan diaktualisasikan sekarang, maka bisa dikatakan bahwa rencana tersebut berada pada situasi dan kondisi yang tidak tepat, alasannya pun beragam.

   1. Situasinya tidak tepat karena bangsa kita belum pulih dari tekanan krisis.
   2. Masyarkat kita berada dalam kondisi yang sangat memprihatinkan akibat bencana dan musibah yang beruntun.
   3. Efektivitas masa jabatan wakil-wakil kita di dewan tinggal kurang lebih satu tahun lagi.
   4. Anggota dewan kita sudah memiliki staff ahli masing-masing yang dilengkapi dengan fasilitas computer, bahkan laptop.

Berangkat dari alasa-alasan di atas, sangat diharapkan agar anggota dewan kita mengurungkan niatnya untuk rencana pengadaan laptop tersebut, langkah yang paling tepat sekarang untuk mereka adalah bagaimana uang yang 12 milyar tersebut dialokasikan untuk mengangkat bangsa kita dari keterpurukan akibat tekanan krisis yang masih sangat terasa dan menormalkan kembali kondisi masyarakat kita yang kini sangat memprihatinkan akibat bencana dan musibah yang tak ada henti-hentinya.

Hal lain cukup menarik dibalik rencana pengadaan laptop 12 M ini adalah melihat masa jabatan efektif atau masa jabatan normal wakil-wakil kita yang tinggal kurang lebih satu tahun lagi, karena akhir 2008 dan awal 2009 nanti saya yakin anggota dewan kita akan lebih berkonsentrasi pada urusan partai dan urusan bagaimana mereka dan partainya bisa meraih suara pada pemilu 2009. maka ini sangat tidak relevan atau berada pada masa yang tidak tepat, karena ada indikasi bahwa laptop tersebut akan dijadikan kenagan-kenangan setelah mereka tidak terpilih lagi di pemilu 2009.

Dan jika kita memakai perhitungan pedagang, mungkinkah modal 12 milyar tersebut dapat dikembalikan ke kas Negara dengan jangka waktu satu tahun. Karena setelah tidak terpilih lagi di pemilu 2009 saya yakin laptop tersebut akan ikut ke rumah mereka. Lebih lanjut lagi, bukankah mereka sebenarnya sudah memiliki staf ahli yang dilengkapi dengan fasilitas canggih dan serba menarik seperi computer dan laptop, ataukah mereka ingin lebih bebas mengakses dan melihat gambar dan video-video porno yang pernah dikatakan oleh Permadi yang termasuk salah satu anggota dewan yang menentang rencana tersebut.

Melihat kondisi-kondisi di atas maka tak ada alasan tepat untuk merealisasikan rencana tersebut, kecuali dengan menggunakan uang mereka sendiri dan uang rakyat yang telah dikorupsinya.

lihat juga www.politea.wordpress.com

kemanakah cinta?

December 12th, 2006 by thepolitea

"kasih aku sayang sama kamu"
itu kata lelaki kepada kekasihnya
"sayang aku akan menjagamu"
itu rayuan lelaki pada gadisnya
"oh sayangku aku takkan melupakanmu"
itu bisikan lelaki saat emndekap kekasihnya

"mas…jangan ahh"
jeritan gadis saat didekap kekasihnya
"hmm..ahhh h.mm…hmm…ss.hhhsssmmm"
rintihan gadis saat semua hilang darinya
"mas…aku telat 2 bulan….nikahi aku!"
kalian pasti tahu apa yang telah terjadi
"ha…huhahah…haha…ahhmm"
"lupakan semua tentang kita"
"anggap semua hanya mimpi"

kemanakah cinta?

“Apakah Aku, kalian dan kita adalah Manusia ?”

November 11th, 2006 by thepolitea

Manusia
adalah

Secara biologis, manusia diklasifikasikan sebagai
Homo sapiens, sebuah spesies primata dari golongan mamalia yang dilengkapi otak
berkemampuan tinggi.

Dalam hal kerohanian, mereka dijelaskan
menggunakan konsep jiwa yang bervariasi di mana, dalam agama,
dimengerti dalam hubungannya dengan kekuatan ketuhanan atau makhluk hidup; dalam mitos,
mereka juga seringkali dibandingkan dengan ras lain.

Dalam antropologi kebudayaan, mereka dijelaskan
berdasarkan penggunaan bahasanya, organisasi
mereka dalam masyarakat majemuk serta
perkembangan teknologinya, dan terutama berdasarkan
kemampuannya untuk membentuk kelompok dan lembaga untuk dukungan
satu sama lain serta pertolongan.

Manusia adalah jagat kecil (mikrokosmos), yang
menjadi cermin alam semesta (makrokosmos). Hal-ihwal yang membawa perbaikan
manusia dapat diartikan sebagai perbaikan alam semesta. Sementara itu,
keburukan yang mengejawantah dalam keseharian membawa efek destruktif bagi
penguatan sendi-sendi kemanusiaan universal yang telah, sedang, dan akan
diejawantahkan oleh umat manusia. Karena itu, tiap manusia dituntut untuk
memaksimalkan potensi (akal budi) primordialnya, dengan tanggung jawab moral
yang berpendar nurani.

Khazanah Islam merunutkan penjelasannya terkait
dengan kebebasan manusia. Pengadilan Ilahi diperuntukkan bagi manusia selaku
individu otonom. Sistem kekerabatan manusia di dunia tak lagi menjadi fokus
pertanggungjawaban manusia. Selaku individu otonom, manusia
mempertanggungjawabkan hal-ihwal yang telah diputuskannya selama di dunia.
Pihak di luar dirinya tak memiliki hak prerogatif sedikit pun untuk
mengintervensi. Pada ranah ini, hanya Sang Esa dan individu otonomlah yang
"berdialog".

Dalam penciptaannya, manusia diberkahi akal budi
dan pesan moral sejati, yakni melangsungkan pengabdiannya di dunia kepada Sang
Esa. Petunjuk ini menuturkan bahwa manusia adalah makhluk moral, yaitu makhluk
yang secara logis dapat dimintai pertanggungjawaban atas segala amal
perbuatannya, baik atau buruk. Dalam konteks ini manusia ada dua macam amal
perbuatan manusia.

Pertama amal perbuatan dalam hubungan dengan Sang
Pencipta (ibada khusus). Ini merupakan hubungan vertikal antara manusia dengan Tuhannya,
realitasnya dapat dilihak ketika manusia misalnya ke Mesjid atau Ke tempat
Ibadah untuk melakukan ibadah. Sementara amal perbuatan yang kedua adalah
ibadah sosial yang merupakan suatu realitas dimana manusia melaksanakan
fungi-fungsi atau tanggung jawab sosialnya dengan baik. Ketika terjadi bencana
tsunami di Aceh ratusan orang dengan niat “tulusnya” mendaftarkan diri sebagai
relawan untuk meringankan beban para korban, dan ketika Mahasiswa berteriak di
bawah teriknya matahari “turunkan harga  BBM
!! Adili Soeharto!! Tolak  “ini itu”!!
demi tetap terciptanya system yang ideal dan ketika seorang Petani membajak
sawahnya demi kelangsungan hidup anak-anaknya. Bahkan senyumpun merupakan
sebuah ibadah,ingat bahwa kita adalah mahluk ciptaan dengan sbaik-baik bentuk
dan hal itu setidaknya dapat diperlihatkan melalui senyum sebagai bukti bahwa
kita manusia memang mahluk yang “sempurna”

Bukankah dalam Al-Quran telah dijelaskan dan
manusia dituntut untuk senantiasa menjaga hubungan dengan Tuhan dan dengan sesama
manusia (lingkungan). Jadi mari kita berfikir apakah kita masih layak
menyandang sebutan sebagai manusia atau kita masih perlu sesuatu agar bisa disebut
manusia. hahahahahhahahah

Selamat Datang Hari Kemenangan

October 20th, 2006 by thepolitea

Mari mensucikan diri sebelum ramdhan beranjak….!!
Hiasi Diri Dengan senyum dan rendah hati….!!
Selamat Datang Hari kemenangan…
Minal Aidin Wal Faizin…
Mohon Maaf Lahir dan batin….!!!

filsafat

October 19th, 2006 by thepolitea

 
INI ITU FILSAFAT

Kata-kata
"filsafat", "filosofi", "filosofis", "filsuf", "falsafi" bertebaran di
sekeliling kita. Apakah pemakaiannya dalam kalimat-kalimat sudah tepat
atau sesuai dengan arti yang dimilikinya, kita acapkali tidak
merisaukan hal itu, mungkin karena kita sendiri juga kurang paham dan
belum berkesempatan memeriksa beberapa literatur atau pun bertanya
kepada mereka yang berkompeten menjelaskan hal itu. Sementara itu, kita
mengerti bahwa beberapa peristilahan ada karena memiliki latar belakang
yang unik.

 

Suatu peristilahan perlu dipahami konteks-nya
untuk memperoleh kejelasan maknanya, baik itu konteks sosial, budaya
bahkan politik. Karena suatu peristilahan pada hakikatnya adalah melukiskan atau pun mewakili suatu konsep, proses, keadaan, atau sifat yang khas dari yang dilukiskan atau diwakilinya. Submenu Terminologi
memperlihatkan bagaimana istilah-istilah yang disebutkan tadi bisa
digunakan. Dalam bagian ini juga dapat diperoleh uraian lebih lanjut
mengenai relasi antara filsafat, ilmu dan agama; hal yang tak jarang
menjadi bahan persoalan.

 

Pada subemenu Sejarah,
kita akan melihat ringkasan sejarah filsafat Timur dan Barat. Kita akan
berjumpa dengan pergulatan jaman dengan para pemikir, filsuf dan
masyarakatnya. Kita mulai dengan mengenal sejumlah nama-nama : jaman atau periode apa ia disebut, siapa-siapa filsuf yang berpengaruh, pemikiran atau filsafat apa yang berkembang, dan seterusnya. Uraian yang lebih komprehensif tentang nama-nama ini justru terdapat dalam pembahasan berikutnya, seperti dalam Aliran, Cabang, dan Filsuf, Hidup dan Karyanya serta Filsafat Hari Ini; sambil nama-nama itu sesekali diuraikan dengan turut menampilkan semangat jamannya.

 

Last but not least, filsafat terbagi dalam beberapa cabang dan aliran. Kita akan mengetahuinya melalui submenu Cabang dan Aliran yang memang dikhususkan untuk pembahasan itu. TERMINOLOGI

 

Filsafat

 

Memberikan rumusan yang pasti tentang apa yang termuat dalam kata "filsafat"
adalah suatu pekerjaan yang terlalu berani dan sombong! Saya ingin
mulai dari sini. Memang, para peminat filsafat, kita sulit
mendefinisikan kata yang satu ini. Bahkan para filsuf (ahli filsafat)
pun mengakuinya. Apa yang membuatnya demikian adalah oleh karena
terdapatnya beragam-ragam paham, metode dan tujuan, yang dianut,
ditempuh dan dituju oleh masing-masing filsuf. Namun, sebuah pengertian
awal mesti diberikan; maksudnya sebagai kompas agar kita tidak tersesat
arah di dalam perjalanan memahami filsafat. Mengingat maksud ini, maka
pengertian tersebut haruslah bersifat dapat dipahami sebanyak-banyak
orang, sehingga dapat dijadikan tempat berpijak bersama.

 

Baiklah kita menilik dahulu kata "filsafat" ini dari akar katanya, dari mana kata ini datang. Kata "filsafat" berasal dari bahasa Yunani, philosophia: philein artinya cinta, mencintai, philos pecinta, sophia
kebijaksanaan atau hikmat. Jadi filsafat artinya "cinta akan
kebijaksanaan". Cinta artinya hasrat yang besar atau yang
berkobar-kobar atau yang sungguh-sungguh. Kebijaksanaan artinya
kebenaran sejati atau kebenaran yang sesungguhnya. Filsafat berarti
hasrat atau keinginan yang sungguh akan kebenaran sejati. Demikian arti
filsafat pada mulanya.

 

Dari
arti di atas, kita kemudian dapat mengerti filsafat secara umum.
Filsafat adalah suatu ilmu, meskipun bukan ilmu vak biasa, yang
berusaha menyelidiki hakikat segala sesuatu untuk memperoleh kebenaran.
Bolehlah filsafat disebut sebagai: suatu usaha untuk berpikir yang
radikal dan menyeluruh, suatu cara berpikir yang mengupas sesuatu
sedalam-dalamnya. Hal yang membawa usahanya itu kepada suatu kesimpulan
universal dari kenyataan partikular atau khusus, dari hal yang
tersederhana sampai yang terkompleks. Filsafat, "Ilmu tentang hakikat".
Di sinilah kita memahami perbedaan mendasar antara "filsafat" dan "ilmu
(spesial)" atau "sains". Ilmu membatasi wilayahnya sejauh alam yang
dapat dialami, dapat diindera, atau alam empiris. Ilmu menghadapi
soalnya dengan pertanyaan "bagaimana" dan "apa sebabnya". Filsafat
mencakup pertanyaan-pertanyaan mengenai makna, kebenaran, dan hubungan
logis di antara ide-ide dasar (keyakinan, asumsi dan konsep) yang tidak
dapat dipecahkan dengan ilmu empiris. Philosophy: Inquiry into the nature of things based on logical reasoning rather than empirical methods (The Grolier Int. Dict.).
Filsafat meninjau dengan pertanyaan "apa itu", "dari mana" dan "ke
mana". Di sini orang tidak mencari pengetahuan sebab dan akibat dari
suatu masalah, seperti yang diselidiki ilmu, melainkan orang mencari
tahu tentang apa yang sebenarnya pada barang atau masalah itu, dari mana terjadinya dan ke manaSokrates
tujuannya. Maka, jika para filsuf ditanyai, "Mengapa A percaya akan
Allah", mereka tidak akan menjawab, "Karena A telah dikondisikan oleh
pendidikan di sekolahnya untuk percaya kepada Allah," atau "Karena A
kebetulan sedang gelisah, dan ide tentang suatu figur bapak membuatnya
tenteram." Dalam hal ini, para filsuf tidak berurusan dengan
sebab-sebab, melainkan dengan dasar-dasar yang mendukung atau
menyangkal pendapat tentang keberadaan Allah. Tugas filsafat menurut
(470-399 S.M.) bukan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang timbul dalam
kehidupan, melainkan mempersoalkan jawaban yang diberikan.

 

Sampai dengan kedua pengertian di atas, marilah kita simak apa kata KattsoffElements of Philosophy untuk melengkapi pengertian kita tentang "filsafat": (1963) di dalam bukunya

 

  • Filsafat adalah berpikir      secara kritis.
  • Filsafat adalah berpikir      dalam bentuk sistematis.
  • Filsafat harus menghasilkan      sesuatu yang runtut.
  • Filsafat adalah berpikir      secara rasional.
  • Filsafat harus bersifat      komprehensif.

 

Kemudian Windelband, seperti dikutip Hatta dalam pendahuluan Alam Pikiran Yunani, "Filsafat sifatnya merentang pikiran sampai sejauh-jauhnya tentang suatu keadaan atau hal yang nyata."   Berikutnya…

 

ERMINOLOGI

 

Ilustrasi Franz von MagnisDemikian kata Magnis,
"Filsafat sebagai usaha tertib, metodis, yang dipertanggungjawabkan
secara intelektual untuk melakukan apa yang sebetulnya diharapkan dari
setiap orang yang tidak hanya mau membebek saja, yang tidak hanya mau
menelan mentah-mentah apa yang sudah dikunyah sebelumnya oleh
pihak-pihak lain. Yaitu untuk mengerti, memahami, mengartikan, menilai,
mengkritik data-data dan fakta-fakta yang dihasilkan dalam pengalaman
sehari-hari dan melalui ilmu-ilmu. Filsafat sebagai latihan untuk
belajar mengambil sikap, mengukur bobot dari segala macam pandangan
yang dari pelbagai penjuru ditawarkan kepada kita. Kalau kita disuruh
membangun masyarakat, filsafat akan membuka implikasi suatu pembangunan
yang misalnya hanya mementingkan kerohanian sebagai ideologi karena
manusia itu memang bukan hanya rohani saja. Atau, kalau pembangunan
hanya material dan hanya mengenai prasarana-prasarana fisik saja,
filsafat akan bertanya sejauh mana pembangunan itu akan menambah
harapan manusia kongkrit dalam masyarakat untuk merasa bahagia. Dan
kalau pelbagai otoritas dalam masyarakat mau mewajibkan sesuatu kepada
kita, filsafat dapat membantu kita dalam mengambil sikap yang dewasa
dengan mempersoalkan hak dan batas mereka untuk mewajibkan sesuatu.
Terhadap ideologi kemajuan akan dipersoalkan apa arti maju bagi
manusia. Atau orang yang mau mengekang kebebasan kita atas nama Tuhan
yang Mahaesa, filsafat akan menarik perhatian kita pada fakta bahwa
yang mau mengekang itu hanyalah manusia saja yang mengatasnamakan
Tuhan, dan bahwa Tuhan tidak pernah identik dengan suara manusia begitu
saja. Dan kalau suatu rezim fanatik mau membawahkan segala nilai pada
kemegahan negara saja, filsafat dapat saja menunjuk pada seorang filsuf
yang dua ribu tahun yang lalu telah berpikir ke arah itu, yaitu Plato,
dan bagaimana dia dilawan oleh seorang filsuf lain jaman itu,
Aristoteles" (Franz Magnis-Suseno, Berfilsafat Dari Konteks, Jakarta, Gramedia, 1999).

 

Untuk
menutup pemahaman awal kita mengenai terminologi "filsafat", baiklah
dicatat nuansa perbedaan arti "filsafat" dengan istilah-istilah yang
hampir serupa dengan ini, yakni "falsafah", "falsafi" atau "filsafati", "berpikir filosofis" dan "mempunyai filsafat hidup"
yang sering kita dengar, kita baca, atau bahkan mungkin kita pakai
dalam hidup keseharian kita. "Falsafah" itu tidak lain filsafat itu
sendiri. "Falsafi" atau "filsafati" artinya: "bersifat sesuai dengan
kaidah-kaidah filsafat". "Berpikir filosofis", sesungguhnya begini:
berpikir dengan dasar cinta akan kebijaksanaan. Bijaksana adalah sifat
manusia yang muncul sebagai hasil dari usahanya untuk berpikir benar
dan berkehendak baik. Berpikir benar saja ternyata belum mencukupi.
Dapat saja orang berpikir bahwa memfitnah adalah tindakan yang jahat.
Tetapi dapat pula ia tetap memfitnah karena meskipun diketahuinya itu
jahat, namun ia tidak menghendaki untuk tidak melakukannya. Cara
berpikir yang filosofis adalah berusaha untuk mewujudkan gabungan
antara keduanya, berpikir benar dan berkehendak baik. Sedangkan,
"mempunyai filsafat hidup" mempunyai pengertian yang lain sama sekali
dengan pengertian "filsafat" yang pertama. Ia bisa diartikan mempunyai
suatu pandangan, seperangkat pedoman hidup atau nilai-nilai tertentu.
Misalnya, seseorang mungkin mempunyai filsafat bahwa "tujuan
menghalalkan cara".

 

Sekarang
kita melangkah untuk melihat lebih dekat tentang hubungan antara
filsafat, ilmu dan agama. Masalah tentang hubungan antara ketiganya
adalah suatu masalah yang sering dipersoalkan.

Ada


yang menyatakan pendapat bahwa filsafat hendak menyaingi sains dan
agama, demikian pula sebaliknya. Akhirnya, terjadi saling curiga
mencurigai antara ketiganya, yang tak jarang merugikan bagi kepentingan
pencarian akan kebenaran itu sendiri.
 

Relasi Filsafat, Ilmu dan Agama

 

Sudah diuraikan di atas bahwa yang dicari oleh filsafat adalah kebenaran.
Demikian pula ilmu. Agama juga mengajarkan kebenaran. Kebenaran dalam
filsafat dan ilmu adalah "kebenaran akal", sedangkan kebenaran menurut
agama adalah "kebenaran wahyu". Kita tidak akan berusaha mencari mana
yang benar atau lebih benar di antara keduanya, akan tetapi kita akan
melihat apakah keduanya dapat hidup berdampingan secara damai, Berikutnya…

 

 

 

TERMINOLOGI

 


secara damai, apakah keduanya dapat bekerjasama atau bahkan saling
bermusuhan satu sama lain. Meskipun filsafat dan ilmu mencari kebenaran
dengan akal, hasil yang diperoleh baik oleh filsafat maupun ilmu juga
bermacam-macam. Hal ini dapat dilihat pada aliran yang berbeda-beda,
baik di dalam filsafat maupun di dalam ilmu. Demikian pula terdapat
bermacam-macam agama yang masing-masing mengajarkan kebenaran.
Bagaimana mencari hubungan antara ilmu, filsafat dan agama akan
diperlihatkan sebagai berikut:

 

Perhatikan
ilustrasi ini. Jika seseorang melihat sesuatu kemudian mengatakan
tentang sesuatu tersebut, dikatakan ia telah mempunyai pengetahuan
mengenai sesuatu. Pengetahuan adalah sesuatu yang tergambar di dalam
pikiran kita. Misalnya, ia melihat manusia, kemudian mengatakan itu
adalah manusia. Ini berarti ia telah mempunyai pengetahuan tentang
manusia. Jika ia meneruskan bertanya lebih lanjut mengenai pengetahuan
tentang manusia, misalnya: dari mana asalnya, bagaimana susunannya, ke
mana tujuannya, dan sebagainya, akan diperoleh jawaban yang lebih
terperinci mengenai manusia tersebut. Jika titik beratnya ditekankan
kepada susunan tubuh manusia, jawabannya akan berupa ilmu tentang manusia
dilihat dari susunan tubuhnya atau antropologi fisik. Jika ditekankan
pada hasil karya manusia atau kebudayaannnya, jawabannya akan berupa
ilmu manusia dilihat dari kebudayaannya atau antropologi budaya. Jika
ditekankan pada hubungan antara manusia yang satu dengan manusia yang
lainnya, jawabannya akan berupa ilmu manusia dilihat dari hubungan
sosialnya atau antropologi sosial.

 

Dari
contoh di atas nampak bahwa pengetahuan yang telah disusun atau
disistematisasi lebih lanjut dan telah dibuktikan serta diakui
kebenarannya adalah ilmu. Dalam hal di atas, ilmu tentang manusia.

 

Selanjutnya,
jika seseorang masih bertanya terus mengenai apa manusia itu atau apa
hakikat manusia itu, maka jawabannya akan berupa suatu "filsafat".
Dalam hal ini yang dikemukakan bukan lagi susunan tubuhnya,
kebudayaannya dan hubungannya dengan sesama manusia, akan tetapi hakikat manusia yang ada di balik tubuh, kebudayaan dan hubungan tadi. Alm. Anton Bakker,
dosen Fakultas Filsafat Universitas Gajah Mada menggunakan istilah
"antropologi metafisik" untuk memberi nama kepada macam filsafat ini.
Jawaban yang dikemukan bermacam-macam antara lain:

 

  • Monisme,
    yang berpendapat manusia terdiri dari satu asas. Jenis asas ini juga
    bermacam-macam, misalnya jiwa, materi, atom, dan sebagainya. Hal ini
    menimbulkan aliran spiritualisme, materialisme, atomisme.
  • Dualisme,
    yang mengajarkan bahwa manusia terdiri atas dua asas yang masing-masing
    tidak berhubungan satu sama lain, misalnya jiwa-raga. Antara jiwa dan
    raga tidak terdapat hubungan.
  • Triadisme, yang      mengajarkan bahwa manusia terdiri atas tiga asas, misalnya badan, jiwa dan      roh.
  • Pluralisme, yang      mengajarkan bahwa manusia terdiri dari banyak asas, misalnya api, udara,      air dan tanah.

 

Di samping itu, ada beberapa pernyataan mengenai manusia yang dapat digolongkan sebagai bernilai filsafati. Misalnya:

 

  • Aristoteles:
    • Manusia adalah animal       rationale.
            Karena, menurutnya, ada tahap perkembangan: Benda mati -> tumbuhan       -> binatang -> manusia
      • Tumbuhan = benda        mati + hidup —-> tumbuhan memiliki jiwa hidup
      • Binatang = benda        mati + hidup + perasaan —-> binatang memiliki jiwa perasaan
      • Manusia = benda        mati + hidup + akal —-> manusia memiliki jiwa rasional
    • Manusia adalah zoon       poolitikon, makhluk sosial.
    • Manusia adalah       "makhluk hylemorfik", terdiri atas materi dan       bentuk-bentuk.  Berikutnya…

 

TERMINOLOGI

 

  • Ernest Cassirer:      manusia adalah animal simbolikum Manusia ialah binatang yang      mengenal simbol,
    misalnya adat-istiadat, kepercayaan, bahasa. Inilah kelebihan manusia
    jika dibandingkan dengan makhluk lainnya. Itulah sebabnya manusia dapat
    mengembangkan dirinya jauh lebih hebat daripada binatang yang hanya
    mengenal tanda dan bukan simbol.

 

Demikianlah
disebutkan beberapa contoh mengenai bentuk jawaban yang berupa
filsafat. Dari contoh tersebut, filsafat adalah pendalaman lebih lanjut
dari ilmu (Hasil pengkajian filsafat selanjutnya menjadi dasar bagi
eksistensi ilmu). Di sinilah batas kemampuan akal manusia. Dengan
akalnya ia tidak akan dapat menjawab pertanyaan yang lebih dalam lagi
mengenai manusia. Dengan akalnya, manusia hanya mampu memberi jawaban
dalam batas-batas tertentu. Hal ini sesuai dengan pendapat Immanuel Kant dalam Kritiknya terhadap rasio yang murni, yaitu manusia hanya dapat mengenal fenomena belaka, sedang bagaimana nomena-nya
ia tidak tahu. Sehubungan dengan hal tersebut, maka yang dapat menjawab
pertanyaan lebih lanjut mengenai manusia adalah agama; misalnya,
tentang pengalaman apa yang akan dijalani setelah seseorang meninggal
dunia. Jadi, sesungguhnya filsafat tidak hendak menyaingi agama.
Filsafat tidak hendak menambahkan suatu kepercayaan baru. Bertrand Russel mencatat August Comte pernah mencobanya, namun ia gagal. "Dan ia patut bernasib demikian," demikian Russel.

 

Selanjutnya,
filsafat dan ilmu juga dapat mempunyai hubungan yang baik dengan agama.
Filsafat dan ilmu dapat membantu menyampaikan lebih lanjut ajaran agama
kepada manusia. Filsafat membantu agama dalam mengartikan
(menginterpretasikan) teks-teks sucinya. Filsafat membantu dalam
memastikan arti objektif tulisan wahyu. Filsafat menyediakan
metode-metode pemikiran untuk teologi. Filsafat membantu agama dalam
menghadapi masalah-masalah baru. Misalnya, mengusahakan mendapat anak
dengan in vitro fertilization ("bayi tabung") dapat
dibenarkan bagi orang Kristen atau tidak? Padahal Kitab Suci diam
seribu bahasa tentang bayi tabung. Filsafatlah, dalam hal ini etika,
yang dapat merumuskan permasalahan etis sedemikian rupa sehingga agama
dapat menjawabnya berdasarkan prinsip-prinsip moralitasnya sendiri.

 

Sebaliknya,
agama dapat membantu memberi jawaban terhadap problem yang tidak dapat
dijangkau dan dijawab oleh ilmu dan filsafat. Meskipun demikian, tidak
juga berarti bahwa agama adalah di luar rasio, agama adalah tidak rasional.
Agama bahkan mendorong agar manusia memiliki sikap hidup yang rasional:
bagaimana manusia menjadi manusia yang dinamis, yang senantiasa
bergerak, yang tak cepat puas dengan perolehan yang sudah ada di
tangannya, untuk lebih mengerti kebenaran, untuk lebih mencintai
kebaikan, dan lebih berusaha agar cinta Allah kepadanya dapat menjadi
dasar cintanya kepada sesama sehingga bersama-sama manusia yang lain
mampu membangun dunia ini.

 

Dengan
cara menyadari keadaan serta kedudukan masing-masing, maka antara ilmu
dan filsafat serta agama dapat terjalin hubungan yang harmonis dan
saling mendukung. Karena, semakin jelas pula bahwa seringkali
pertanyaan, fakta atau realita yang dihadapi seseorang adalah hal yang
sama, namun dapat dijawab secara berbeda sesuai dengan proporsi yang
dimiliki masing-masing bidang kajian, baik itu ilmu, filsafat maupun
agama. Ketiganya dapat saling menunjang dalam menyelesaikan persoalan
yang timbul dalam kehidupan.

 

Demikianlah pemahaman yang kita miliki sekarang mengenai terminologi "filsafat" dan kedudukannya di antara ilmu dan agama.

 

 

 

 

 

         0 comments
      
links to this post 
   

 

 


         
   

Aliran

   

 

Dalam
perjalanannya, problem yang dihadapi oleh manusia makin kompleks,
sehingga membutuhkan jawaban yang kompleks pula. Jawaban yang diberikan
terhadap suatu problem tidak selalu dapat tuntas, bahkan kadang-kadang
hanya sebagian kecil darinya yang terjawab dengan baik. Karena latar
belakang yang berbeda-beda, baik dilihat dari manusianya maupun
tantangan atau problemnya, maka berakibat juga pada beragamnya
bagaimana suatu jawaban diberikan.

 

Oleh
karena itu, suatu problem yang sama, karena dilihat dari berbagai sudut
dan arah, menimbulkan jawaban yang berbeda. Timbullah bermacam-macam
aliran dalam filsafat.

 

Manusia
memegang peranan yang penting dalam munculnya aliran-aliran dalam
filsafat. Pada hakikatnya, karena ia mempunyai unsur kejiwaan, yaitu
cipta, rasa dan karsa, maka setiap orang dapat menghasilkan filsafatnya
sendiri. Namun pada sisi yang lain, kenyataan menunjukkan bahwa hanya
orang-orang tertentu yang dapat mengemukakan pendapat serta ajaran yang
bernilai filsafati. Hambatan-hambatan yang ditimbulkan oleh kata dan
susunan kalimat dalam suatu bahasa seringkali memaksa seorang filsuf
untuk menyusun kalimat atau rangkaian kata baru semata-mata untuk bisa
membuat representasi yang mendekati apa yang terkandung dalam
pikirannya. Oleh karena filsafat merupakan hasil permenungan jiwa
manusia yang terdalam, maka corak (sifat, khas) dalam tiap-tiap aliran tidak terlepas dari unsur-unsur yang menyusun manusia itu sendiri.

 

  1. Corak yang sesuai dengan      unsur jiwa dan raga:
    Manusia terdiri atas jiwa dan raga, karenanya filsafat ada yang
    menintikberatkan atau mengagungkan jiwa atau memberi tempat yang tinggi
    kepada jiwa atau unsur-unsur dalam. Aliran yang termasuk jenis ini
    antara lain adalah:
    • Idealisme,       yang memberi tempat tertinggi pada idea.
    • Spiritualisme,       yang memberi tempat tertinggi pada jiwa.
    • Rasionalisme,       yang memberi tempat tertinggi pada akal.

 

Sebaliknya,
ada yang menempatkan unsur-unsur ragawi, unsur-unsur luar, sebagai yang
tertinggi. Termasuk dalam aliran ini antara lain adalah:

 

    • Materialisme,       yang memberi tempat tertinggi pada materi.
    • Empirisme,       yang memberi tempat tertinggi pada pengalaman.
    • Sensisme,       yang memberi tempat tertinggi pada panca indera.

 

 

 

  1. Corak yang sesuai dengan      sifat individu dan sosial:
    Manusia memiliki sifat individu dan sosial, karena itu pengejawantahan
    dari sifat ini terlihat pula dalam corak aliran filsafat.

    Ada

    yang mengagungkan sifat individunya.      Aliran yang termausk jenis ini antara lain adalah:

    • Individualisme,       yang memberi tempat tertinggi pada individu.
    • Liberalisme,       yang mengagungkan hak mutlak setiap individu.

 

Sebaliknya, ada yang mengagungkan sifat sosialnya. Termasuk dalam aliran ini adalah:

 

    • Altruisme,       yang mengutamakan kepentingan orang lain semata-mata.
    • Sosialisme,       yang mengutamakan kepentigan sosial lebih dari kepentingan individu.

 

Berikutnya…

 

  1.  
  2. Corak yang menyangkut      hubungan manusia dengan "Yang Mahakuasa":
         Dalam hal ini, aliran di dalam filsafat ada yang bercorak teistik, ada      pula yang ateistik. Misalnya, Tomisme memberi tempat yang tinggi      kepada Tuhan, sedangkan Positivisme menolak teologi.
  3. Corak perpaduan:
    Karena ada aliran kefilsafatan yang menekankan atau mengagungkan salah
    satu unsur, maka terjadi jurang pemisah antara keduanya. Karena ada
    jurang pemisah itu, timbullah usaha untuk menghubungkan kedua sisinya
    yaitu dengan membuat jembatan. Beberapa contoh di antaranya adalah:
    • Immanuel Kant       (lahir 1724 di Koningsbergen) berusaha menjembatani antara Rasionalisme       dan Empirisme.
    • G.W.F. Hegel       (lahir 1770 di

      Stuttgart

      )       membuat jembatan antara pendapat Fichte dengan pendapat Friedrich       Yoseph Schelling.
            Sistem fichte adalah idealisme subjektif, sedang Schelling       adalah idealisme objektif. Jembatan yang dibuat oleh Hegel       adalah idealisme absolut.
      Inilah bentuk metode dialektik Hegel yaitu Tesis-Antitesis-Sintesis.
      Karena Sintesis pada hakikatnya adalah suatu Tesis Baru, maka dari
      padanya akan timbul Antitesis baru, demikian pula akan timbul Sintesis
      Baru, dan seterusnya.

 

 

 

Pada
bagian kali ini, kami akan mengangkat satu aliran filsafat yang sangat
berpengaruh di Barat pada abad kedua puluh, terutama setelah selesainya
Perang Dunia Kedua. Ialah "Eksistensialisme". Pembahasan berikut ini
akan menjadi model pembahasan bagi aliran-aliran filsafat lainnya; di
mana kami secara rutin akan menambahkan materi-materi baru dalam bagian
ini, sehingga, mudah-mudahan, seluruh aliran filsafat, utamanya
aliran-aliran yang besar, mendapat kesempatan untuk disajikan ke
hadapan pembaca.

 

 

Eksistensialisme

 

Dalam filsafat dibedakan antara esensia dan eksistensia.
Esensia membuat benda, tumbuhan, binatang dan manusia. Oleh esensia,
sosok dari segala yang ada mendapatkan bentuknya. Oleh esensia, kursi
menjadi kursi. Pohon mangga menjadi pohon mangga. Harimau menjadi
harimau. Manusia menjadi manusia. Namun, dengan esensia saja, segala
yang ada belum tentu berada. Kita dapat membayangkan kursi, pohon
mangga, harimau, atau manusia. Namun, belum pasti apakah semua itu
sungguh ada, sungguh tampil, sungguh hadir. Di sinilah peran
eksistensia.

 

Eksistensia
membuat yang ada dan bersosok jelas bentuknya, mampu berada, eksis.
Oleh eksistensia kursi dapat berada di tempat. Pohon mangga dapat
tertanam, tumbuh, berkembang. Harimau dapat hidup dan merajai hutan.
Manusia dapat hidup, bekerja, berbakti, dan membentuk kelompok bersama
manusia lain. Selama masih bereksistensia, segala yang ada dapat ada,
hidup, tampil, hadir. Namun, ketika eksistensia meninggalkannya, segala
yang ada menjadi tidak ada, tidak hidup, tidak tampil, tidak hadir.
Kursi lenyap. Pohon mangga menjadi kayu mangga. Harimau menjadi
bangkai. Manusia mati. Demikianlah penting peranan eksistensia.
Olehnya, segalanya dapat nyata ada, hidup, tampil, dan berperan. Adapun
tanpa eksistensia, segala sesuatu tidak nyata ada, apalagi hidup dan
berperan. Berikutnya…

 

Eksistensialisme adalah aliran filsafat yang menekankan eksistensia.

Para


pengamat eksistensialisme tidak mempersoalkan esensia dari segala yang
ada. Karena memang sudah ada dan tak ada persoalan. Kursi adalah kursi.
Pohon mangga adalah pohon mangga. Harimau adalah harimau. Manusia
adalah manusia. Namun, mereka mempersoalkan bagaimana segala yang ada
berada dan untuk apa berada. Oleh karena itu, mereka menyibukkan diri
dengan pemikiran tentang eksistensia. Dengan mencari cara berada dan
eksis yang sesuai, esensia pun akan ikut terpengaruhi. Dengan
pengolahan eksistensia secara tepat, segala yang ada bukan hanya
berada, tetapi berada dalam keadaan optima. Untuk manusia, ini berarti
bahwa dia tidak sekadar berada dan eksis, tetapi berada dan eksis dalam
kondisi ideal sesuai dengan kemungkinaan yang dapat dicapai. Dalam
kerangka pemikiran itu, menurut kaum eksistensialis, hidup ini terbuka.
Nilai hidup yang paling tinggi adalah kemerdekaan. Dengan kemerdekaan
itu, keterbukaan hidup dapat ditanggapi secara baik. Segala sesuatu
yang menghambat, mengurangi, atau meniadakan kemerdekaan harus dilawan.
Tata tertib, peraturan, hukum harus disesuaikan atau, bila perlu,
dihapus dan ditiadakan. Karena adanya tata tertib, peraturan, hukum
dengan sendirinya sudah tak sesuai dengan hidup yang terbuka dan
hakikat kemerdekaan. Semua itu membuat orang terlalu melihat ke
belakang dan mengaburkan masa depan, sekaligus membuat praktik
kemerdekaan menjadi tidak leluasa lagi.
 

Dalam
hal etika, karena hidup ini terbuka, kaum eksistensialis memegang
kemerdekaan sebagai norma. Bagi mereka, manusia mampu menjadi seoptima
mungkin. Untuk menyelesaikan proyek hidup itu, kemerdekaan mutlak
diperlukan. Berdasarkan dan atas norma kemerdekaan, mereka berbuat apa
saja yang dianggap mendukung penyelesaian proyek hidup. Sementara itu,
segala tata tertib, peraturan, hukum tidak menjadi bahan pertimbangan.
Karena adanya saja sudah mengurangi kemerdekaan dan isinya menghalangi
pencapaian cita-cita proyek hidup. Sebagai ganti tata-tertib,
peraturan, dan hukum, mereka berpegang pada tanggung jawab pribadi.
Mereka tak mempedulikan segala peraturan dan hukum, dan tidak mengambil
pusing akan sanksi-sanksinya. Yang mereka pegang adalah tanggung jawab
pribadi dan siap menanggung segala konsekuensi yang datang dari
masyarakat, negara, atau lembaga agama. Satu-satunya hal yang
diperhatikan adalah situasi. Dalam menghadapi perkara untuk
menyelesaikan proyek hidup dalam situasi tertentu, pertanyaan pokok
mereka adalah apa yang paling baik yang menurut pertimbangan dan
tanggung jawab pribadi seharusnya dilakukan dalam situasi itu. Yang
baik adalah yang baik menurut pertimbangan norma mereka, bukan
berdasarkan perkaranya dan norma masyarakat, negara, atau agama.

 

Segi
positif yang sekaligus merupakan kekuatan dan daya tarik etika
eksistensialis adalah pandangan tentang hidup, sikap dalam hidup,
penghargaan atas peran situasi, penglihatannya tentang masa depan.
Berbeda dengan orang lain yang berpikiran bahwa hidup ini sudah
selesai, yang harus diterima seperti adanya, dan tak perlu diubah,
etika eksistensialis berpendapat bahwa hidup ini belum selesai, tidak
harus diterima sebagai adanya, dan dapat diubah, bahkan harus diubah.
Ini berlaku untuk hidup manusia sebagai pribadi, masyarakat, bangsa,
dan dunia seanteronya. Dalam arti itulah hidup dimengerti sebagai
proyek. Orang yang memandang hidup sebagai sudah selesai, mempunyai
sikap pasrah dan "menerima", sementara kaum eksistensialis yang
memahami hidup sebagai belum selesai mempunyai sikap berusaha dan
berjuang. Hidup ini perlu dan harus diperbaiki. Faktor penting untuk
perbaikan hidup itu adalah tanggung jawab. Setiap orang harus
bertanggungjawab atas hidupnya dan dengan sungguh-sungguh berupaya
untuk mengembangkannya. Bagi orang yang merasa hidup sudah jadi,
situasi hidup menjadi sama saja. Tidak ada situasi penting, mendesak,
atau genting. Karena hidup selalu berjalan normal. Namun, bagi kaum
eksistensialis yang memahami hidup belum selesai, setiap situasi
membawa akibat untuk kemajuan kehidupan. Oleh karena itu, setiap
situasi perlu dikendalikan, dimanfaatkan, diarahkan sehingga menjadi
keuntungan bagi kemajuan hidup. Akhirnya, bagi orang yang menerima
hidup sudah sampai titik dan puncak kesempurnaannya, masa depan tidak
amat berperan karena masa depan pun keadaannya akan sama saja dengan
masa yang ada sekarang. Namun, bagi kaum eksistensialis yang belum puas
dengan hidup yang ada dan yang merasa perlu untuk mengubahnya, masa
depan merupakan faktor yang penting. Karena hanya dengan adanya masa
depan itu, perbaikan hidup dimungkinkan dan pada masa depan pula hidup
baik itu terwujud. Dengan demikian,

gaya

hidup kaum eksistensialis menjadi serius, dinamis, penuh usaha, dan optimis menuju ke masa depan.  Berikutnya… 

 

 

Namun,
oleh pandangan-pandangan yang terkandung di dalam dirinya, segi-segi
positif etika eksistensialis itu menjadi berkurang positifnya.
Kelemaham-kelemahan etika eksistensialis dapat disebut beberapa.
Pertama, etika eksistensialis terperosok ke dalam pendirian yang
individualistis. Dengan pendirian itu, di bawah nama melaksanakan
proyek hidup, bisa-bisa para pengikut aliran eksistensialis hanya
mencari dan mengejar kepentingan diri. Karena yang baik ditentukan
sendiri, bukan berdasarkan norma, maka yang dianggap baik bukanlah
kebaikan sejati, melainkan baik menurut dan bagi diri mereka sendiri.
Cara memandang kebaikan yang individualistis itu dapat merugikan
sesama, masyarakat dan dunia.

 

Kedua,
dengan mengabaikan tata tertib, peraturan, hukum, kaum eksistensialis
menjadi manusia yang anti-sosial. Tidak dapat disangkal bahwa ada norma
masyarakat yang sudah usang. Namun, menyatakan segala norma tak berlaku
sungguh melawan akal sehat. Karena norma masyarakat merupakan hasil
perjalanan pencarian yang tidak begitu saja mudah ditiadakan. Jika
tidak dapat dipergunakan sepenuhnya, paling sedikit masih dapat
bermanfaat sebagai bahan pertimbangan dan titik tolak pencarian nilai
hidup lebih lanjut. Kecuali itu, sikap para penganut aliran
eksistensialis yang asosial merugikan usaha perbaikan hidup dan dunia.
Karena usaha itu merupakan usaha raksasa sehingga tidak dapat
diselesaikan secara perorangan, melainkan harus digarap bersama seluruh
masyarakat.

 

Ketiga,
dengan mengambil sikap bebas merdeka, kaum eksistensialis memandang
kemerdekaan sebagai tidak terbatas. Padahal, dalam hidup ini tidak ada
kemerdekaan yang tanpa batas. Karena dalam perwujudannya selalu akan
dibatasi. Pembatasan itu berasal dari si pelaksana sendiri dan
masyarakat. Seberapa "hebat"-nya manusia, tidak mungkinlah dia mampu
mewujudkan kemerdekaannya secara penuh. Pembatasan juga datang dari
masyarakat. Selama orang hidup dakam masyarakat, pelaksanaan
kemerdekaan akan selalu dibatasi oleh pelaksanaan kebebasan orang lain.
Mau tidak mau, dalam hidup masyarakat orang harus mau "memberi" dan
"menerima", alias berkompromi.

 

Keempat,
kaum eksistensialis amat memperhitungkan situasi. Namun, situasi itu
mudah goyah. Kelemahan ini masih diperkuat oleh sikap individualistis
yang dipegang kaum eksistensialis. Bila orang bersandar pada situasi
dan diri sendiri saja, pandangannya menjadi terbatas, lingkup
perbuatannya dipersempit, dan pendiriannya rapuh. Begitulah, etika
eksistensialis memiliki unsur-unsur kebaikan yang positif. Namun, bila
tak mengurangi dan melepaskan kelemahan-kelemahannya, eksistensialisme
akan melemahkan arti dan sumbangan-sumbangannya yang memang berharga.

 

Nama "eksistensialisme" memang hanya disenangi oleh Jean-Paul Sartre. Filsuf-filsuf lain dari aliran ini lebih senang disebut "filsuf-eksistensi". Di antara mereka adalah S. Aabye Kierkegaard (1813-1855), Friedrich NietzscheKarl Jaspers (1883-1969), Martin Heidegger (1889-1976), Gabriel Marcel (1889-1973) dan M. Merleau-Ponty (1908-1961). Beberapa dari mereka nanti akan dibahas secara khusus di bagian Filsuf, Hidup dan Karyanya situs ini. (1844-1900),

Hari Kemenangan

October 18th, 2006 by thepolitea

Allahu Akbar….Allahu Akbar…..Allahu Akbar….
Allahu Akbar Wali Lillahil Hamd.

Selamat datang hari kemenangan….
Setelah sebulan kita berjuang melawan ketangguhan hawa nafsu, maka tibalah saatnya merayakan kemenangan. kita tabuh beduk iringi gema takbir " Allahu Akbar"
Selamat datang Hari kesempurnaan…
Setelah sebulan kita mensucikan diri, tibalah hari ini untuk mnyempurnakan fitrah kita sebagai manusia tanpa dosa!!
Mari kita buka pintu maaf bagi semuanya!! minal aidin wal faizin, Mohon maaf lahir batin.

laapar

October 13th, 2006 by thepolitea

laaapar……………………………………………………………….lapar………la..pa..r………
la………………..pa…….r………………….lap………….ar……………..la..

tak ada apa-apa

June 8th, 2006 by thepolitea

aku pusing, letih dan capek. Tak ada cerita indah untuk semua……….
selamat ………duhh apa ya…….aku tak mampu melanjutkannya…
maaf ya!!!

CiTa CinTa

June 4th, 2006 by thepolitea

Hei wanita yang tanpa cinta
hei kaum hawa yang merindu lelaki
jangan sedih dan sepi
lupakan risau dan resahmu

gapai citramu
terbang bersama kesempurnaanmu
lupakan kesendirianmu
yang menafikkan dekapan lelaki

hei wanita yang merindu lelaki
jadikan aku cita cintamu
hei wanita yang tanpa cinta
jadikan cintaku penenang jiwamu
hingga lepas resah dan risaumu………