INI ITU FILSAFAT
Kata-kata
"filsafat", "filosofi", "filosofis", "filsuf", "falsafi" bertebaran di
sekeliling kita. Apakah pemakaiannya dalam kalimat-kalimat sudah tepat
atau sesuai dengan arti yang dimilikinya, kita acapkali tidak
merisaukan hal itu, mungkin karena kita sendiri juga kurang paham dan
belum berkesempatan memeriksa beberapa literatur atau pun bertanya
kepada mereka yang berkompeten menjelaskan hal itu. Sementara itu, kita
mengerti bahwa beberapa peristilahan ada karena memiliki latar belakang
yang unik.
Suatu peristilahan perlu dipahami konteks-nya
untuk memperoleh kejelasan maknanya, baik itu konteks sosial, budaya
bahkan politik. Karena suatu peristilahan pada hakikatnya adalah melukiskan atau pun mewakili suatu konsep, proses, keadaan, atau sifat yang khas dari yang dilukiskan atau diwakilinya. Submenu Terminologi
memperlihatkan bagaimana istilah-istilah yang disebutkan tadi bisa
digunakan. Dalam bagian ini juga dapat diperoleh uraian lebih lanjut
mengenai relasi antara filsafat, ilmu dan agama; hal yang tak jarang
menjadi bahan persoalan.
Pada subemenu Sejarah,
kita akan melihat ringkasan sejarah filsafat Timur dan Barat. Kita akan
berjumpa dengan pergulatan jaman dengan para pemikir, filsuf dan
masyarakatnya. Kita mulai dengan mengenal sejumlah nama-nama : jaman atau periode apa ia disebut, siapa-siapa filsuf yang berpengaruh, pemikiran atau filsafat apa yang berkembang, dan seterusnya. Uraian yang lebih komprehensif tentang nama-nama ini justru terdapat dalam pembahasan berikutnya, seperti dalam Aliran, Cabang, dan Filsuf, Hidup dan Karyanya serta Filsafat Hari Ini; sambil nama-nama itu sesekali diuraikan dengan turut menampilkan semangat jamannya.
Last but not least, filsafat terbagi dalam beberapa cabang dan aliran. Kita akan mengetahuinya melalui submenu Cabang dan Aliran yang memang dikhususkan untuk pembahasan itu. TERMINOLOGI

Memberikan rumusan yang pasti tentang apa yang termuat dalam kata "filsafat"
adalah suatu pekerjaan yang terlalu berani dan sombong! Saya ingin
mulai dari sini. Memang, para peminat filsafat, kita sulit
mendefinisikan kata yang satu ini. Bahkan para filsuf (ahli filsafat)
pun mengakuinya. Apa yang membuatnya demikian adalah oleh karena
terdapatnya beragam-ragam paham, metode dan tujuan, yang dianut,
ditempuh dan dituju oleh masing-masing filsuf. Namun, sebuah pengertian
awal mesti diberikan; maksudnya sebagai kompas agar kita tidak tersesat
arah di dalam perjalanan memahami filsafat. Mengingat maksud ini, maka
pengertian tersebut haruslah bersifat dapat dipahami sebanyak-banyak
orang, sehingga dapat dijadikan tempat berpijak bersama.
Baiklah kita menilik dahulu kata "filsafat" ini dari akar katanya, dari mana kata ini datang. Kata "filsafat" berasal dari bahasa Yunani, philosophia: philein artinya cinta, mencintai, philos pecinta, sophia
kebijaksanaan atau hikmat. Jadi filsafat artinya "cinta akan
kebijaksanaan". Cinta artinya hasrat yang besar atau yang
berkobar-kobar atau yang sungguh-sungguh. Kebijaksanaan artinya
kebenaran sejati atau kebenaran yang sesungguhnya. Filsafat berarti
hasrat atau keinginan yang sungguh akan kebenaran sejati. Demikian arti
filsafat pada mulanya.
Dari
arti di atas, kita kemudian dapat mengerti filsafat secara umum.
Filsafat adalah suatu ilmu, meskipun bukan ilmu vak biasa, yang
berusaha menyelidiki hakikat segala sesuatu untuk memperoleh kebenaran.
Bolehlah filsafat disebut sebagai: suatu usaha untuk berpikir yang
radikal dan menyeluruh, suatu cara berpikir yang mengupas sesuatu
sedalam-dalamnya. Hal yang membawa usahanya itu kepada suatu kesimpulan
universal dari kenyataan partikular atau khusus, dari hal yang
tersederhana sampai yang terkompleks. Filsafat, "Ilmu tentang hakikat".
Di sinilah kita memahami perbedaan mendasar antara "filsafat" dan "ilmu
(spesial)" atau "sains". Ilmu membatasi wilayahnya sejauh alam yang
dapat dialami, dapat diindera, atau alam empiris. Ilmu menghadapi
soalnya dengan pertanyaan "bagaimana" dan "apa sebabnya". Filsafat
mencakup pertanyaan-pertanyaan mengenai makna, kebenaran, dan hubungan
logis di antara ide-ide dasar (keyakinan, asumsi dan konsep) yang tidak
dapat dipecahkan dengan ilmu empiris. Philosophy: Inquiry into the nature of things based on logical reasoning rather than empirical methods (The Grolier Int. Dict.).
Filsafat meninjau dengan pertanyaan "apa itu", "dari mana" dan "ke
mana". Di sini orang tidak mencari pengetahuan sebab dan akibat dari
suatu masalah, seperti yang diselidiki ilmu, melainkan orang mencari
tahu tentang apa yang sebenarnya pada barang atau masalah itu, dari mana terjadinya dan ke manaSokrates
tujuannya. Maka, jika para filsuf ditanyai, "Mengapa A percaya akan
Allah", mereka tidak akan menjawab, "Karena A telah dikondisikan oleh
pendidikan di sekolahnya untuk percaya kepada Allah," atau "Karena A
kebetulan sedang gelisah, dan ide tentang suatu figur bapak membuatnya
tenteram." Dalam hal ini, para filsuf tidak berurusan dengan
sebab-sebab, melainkan dengan dasar-dasar yang mendukung atau
menyangkal pendapat tentang keberadaan Allah. Tugas filsafat menurut
(470-399 S.M.) bukan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang timbul dalam
kehidupan, melainkan mempersoalkan jawaban yang diberikan.
Sampai dengan kedua pengertian di atas, marilah kita simak apa kata KattsoffElements of Philosophy untuk melengkapi pengertian kita tentang "filsafat": (1963) di dalam bukunya
- Filsafat adalah berpikir secara kritis.
- Filsafat adalah berpikir dalam bentuk sistematis.
- Filsafat harus menghasilkan sesuatu yang runtut.
- Filsafat adalah berpikir secara rasional.
- Filsafat harus bersifat komprehensif.
Kemudian Windelband, seperti dikutip Hatta dalam pendahuluan Alam Pikiran Yunani, "Filsafat sifatnya merentang pikiran sampai sejauh-jauhnya tentang suatu keadaan atau hal yang nyata." Berikutnya…
ERMINOLOGI
Demikian kata Magnis,
"Filsafat sebagai usaha tertib, metodis, yang dipertanggungjawabkan
secara intelektual untuk melakukan apa yang sebetulnya diharapkan dari
setiap orang yang tidak hanya mau membebek saja, yang tidak hanya mau
menelan mentah-mentah apa yang sudah dikunyah sebelumnya oleh
pihak-pihak lain. Yaitu untuk mengerti, memahami, mengartikan, menilai,
mengkritik data-data dan fakta-fakta yang dihasilkan dalam pengalaman
sehari-hari dan melalui ilmu-ilmu. Filsafat sebagai latihan untuk
belajar mengambil sikap, mengukur bobot dari segala macam pandangan
yang dari pelbagai penjuru ditawarkan kepada kita. Kalau kita disuruh
membangun masyarakat, filsafat akan membuka implikasi suatu pembangunan
yang misalnya hanya mementingkan kerohanian sebagai ideologi karena
manusia itu memang bukan hanya rohani saja. Atau, kalau pembangunan
hanya material dan hanya mengenai prasarana-prasarana fisik saja,
filsafat akan bertanya sejauh mana pembangunan itu akan menambah
harapan manusia kongkrit dalam masyarakat untuk merasa bahagia. Dan
kalau pelbagai otoritas dalam masyarakat mau mewajibkan sesuatu kepada
kita, filsafat dapat membantu kita dalam mengambil sikap yang dewasa
dengan mempersoalkan hak dan batas mereka untuk mewajibkan sesuatu.
Terhadap ideologi kemajuan akan dipersoalkan apa arti maju bagi
manusia. Atau orang yang mau mengekang kebebasan kita atas nama Tuhan
yang Mahaesa, filsafat akan menarik perhatian kita pada fakta bahwa
yang mau mengekang itu hanyalah manusia saja yang mengatasnamakan
Tuhan, dan bahwa Tuhan tidak pernah identik dengan suara manusia begitu
saja. Dan kalau suatu rezim fanatik mau membawahkan segala nilai pada
kemegahan negara saja, filsafat dapat saja menunjuk pada seorang filsuf
yang dua ribu tahun yang lalu telah berpikir ke arah itu, yaitu Plato,
dan bagaimana dia dilawan oleh seorang filsuf lain jaman itu,
Aristoteles" (Franz Magnis-Suseno, Berfilsafat Dari Konteks, Jakarta, Gramedia, 1999).
Untuk
menutup pemahaman awal kita mengenai terminologi "filsafat", baiklah
dicatat nuansa perbedaan arti "filsafat" dengan istilah-istilah yang
hampir serupa dengan ini, yakni "falsafah", "falsafi" atau "filsafati", "berpikir filosofis" dan "mempunyai filsafat hidup"
yang sering kita dengar, kita baca, atau bahkan mungkin kita pakai
dalam hidup keseharian kita. "Falsafah" itu tidak lain filsafat itu
sendiri. "Falsafi" atau "filsafati" artinya: "bersifat sesuai dengan
kaidah-kaidah filsafat". "Berpikir filosofis", sesungguhnya begini:
berpikir dengan dasar cinta akan kebijaksanaan. Bijaksana adalah sifat
manusia yang muncul sebagai hasil dari usahanya untuk berpikir benar
dan berkehendak baik. Berpikir benar saja ternyata belum mencukupi.
Dapat saja orang berpikir bahwa memfitnah adalah tindakan yang jahat.
Tetapi dapat pula ia tetap memfitnah karena meskipun diketahuinya itu
jahat, namun ia tidak menghendaki untuk tidak melakukannya. Cara
berpikir yang filosofis adalah berusaha untuk mewujudkan gabungan
antara keduanya, berpikir benar dan berkehendak baik. Sedangkan,
"mempunyai filsafat hidup" mempunyai pengertian yang lain sama sekali
dengan pengertian "filsafat" yang pertama. Ia bisa diartikan mempunyai
suatu pandangan, seperangkat pedoman hidup atau nilai-nilai tertentu.
Misalnya, seseorang mungkin mempunyai filsafat bahwa "tujuan
menghalalkan cara".
Sekarang
kita melangkah untuk melihat lebih dekat tentang hubungan antara
filsafat, ilmu dan agama. Masalah tentang hubungan antara ketiganya
adalah suatu masalah yang sering dipersoalkan.
Ada
yang menyatakan pendapat bahwa filsafat hendak menyaingi sains dan
agama, demikian pula sebaliknya. Akhirnya, terjadi saling curiga
mencurigai antara ketiganya, yang tak jarang merugikan bagi kepentingan
pencarian akan kebenaran itu sendiri.
Relasi Filsafat, Ilmu dan Agama
Sudah diuraikan di atas bahwa yang dicari oleh filsafat adalah kebenaran.
Demikian pula ilmu. Agama juga mengajarkan kebenaran. Kebenaran dalam
filsafat dan ilmu adalah "kebenaran akal", sedangkan kebenaran menurut
agama adalah "kebenaran wahyu". Kita tidak akan berusaha mencari mana
yang benar atau lebih benar di antara keduanya, akan tetapi kita akan
melihat apakah keduanya dapat hidup berdampingan secara damai, Berikutnya…
TERMINOLOGI
…
secara damai, apakah keduanya dapat bekerjasama atau bahkan saling
bermusuhan satu sama lain. Meskipun filsafat dan ilmu mencari kebenaran
dengan akal, hasil yang diperoleh baik oleh filsafat maupun ilmu juga
bermacam-macam. Hal ini dapat dilihat pada aliran yang berbeda-beda,
baik di dalam filsafat maupun di dalam ilmu. Demikian pula terdapat
bermacam-macam agama yang masing-masing mengajarkan kebenaran.
Bagaimana mencari hubungan antara ilmu, filsafat dan agama akan
diperlihatkan sebagai berikut:
Perhatikan
ilustrasi ini. Jika seseorang melihat sesuatu kemudian mengatakan
tentang sesuatu tersebut, dikatakan ia telah mempunyai pengetahuan
mengenai sesuatu. Pengetahuan adalah sesuatu yang tergambar di dalam
pikiran kita. Misalnya, ia melihat manusia, kemudian mengatakan itu
adalah manusia. Ini berarti ia telah mempunyai pengetahuan tentang
manusia. Jika ia meneruskan bertanya lebih lanjut mengenai pengetahuan
tentang manusia, misalnya: dari mana asalnya, bagaimana susunannya, ke
mana tujuannya, dan sebagainya, akan diperoleh jawaban yang lebih
terperinci mengenai manusia tersebut. Jika titik beratnya ditekankan
kepada susunan tubuh manusia, jawabannya akan berupa ilmu tentang manusia
dilihat dari susunan tubuhnya atau antropologi fisik. Jika ditekankan
pada hasil karya manusia atau kebudayaannnya, jawabannya akan berupa
ilmu manusia dilihat dari kebudayaannya atau antropologi budaya. Jika
ditekankan pada hubungan antara manusia yang satu dengan manusia yang
lainnya, jawabannya akan berupa ilmu manusia dilihat dari hubungan
sosialnya atau antropologi sosial.
Dari
contoh di atas nampak bahwa pengetahuan yang telah disusun atau
disistematisasi lebih lanjut dan telah dibuktikan serta diakui
kebenarannya adalah ilmu. Dalam hal di atas, ilmu tentang manusia.
Selanjutnya,
jika seseorang masih bertanya terus mengenai apa manusia itu atau apa
hakikat manusia itu, maka jawabannya akan berupa suatu "filsafat".
Dalam hal ini yang dikemukakan bukan lagi susunan tubuhnya,
kebudayaannya dan hubungannya dengan sesama manusia, akan tetapi hakikat manusia yang ada di balik tubuh, kebudayaan dan hubungan tadi. Alm. Anton Bakker,
dosen Fakultas Filsafat Universitas Gajah Mada menggunakan istilah
"antropologi metafisik" untuk memberi nama kepada macam filsafat ini.
Jawaban yang dikemukan bermacam-macam antara lain:
- Monisme,
yang berpendapat manusia terdiri dari satu asas. Jenis asas ini juga
bermacam-macam, misalnya jiwa, materi, atom, dan sebagainya. Hal ini
menimbulkan aliran spiritualisme, materialisme, atomisme.
- Dualisme,
yang mengajarkan bahwa manusia terdiri atas dua asas yang masing-masing
tidak berhubungan satu sama lain, misalnya jiwa-raga. Antara jiwa dan
raga tidak terdapat hubungan.
- Triadisme, yang mengajarkan bahwa manusia terdiri atas tiga asas, misalnya badan, jiwa dan roh.
- Pluralisme, yang mengajarkan bahwa manusia terdiri dari banyak asas, misalnya api, udara, air dan tanah.
Di samping itu, ada beberapa pernyataan mengenai manusia yang dapat digolongkan sebagai bernilai filsafati. Misalnya:
- Aristoteles:
- Manusia adalah animal rationale.
Karena, menurutnya, ada tahap perkembangan: Benda mati -> tumbuhan -> binatang -> manusia
- Tumbuhan = benda mati + hidup —-> tumbuhan memiliki jiwa hidup
- Binatang = benda mati + hidup + perasaan —-> binatang memiliki jiwa perasaan
- Manusia = benda mati + hidup + akal —-> manusia memiliki jiwa rasional
- Manusia adalah zoon poolitikon, makhluk sosial.
- Manusia adalah "makhluk hylemorfik", terdiri atas materi dan bentuk-bentuk. Berikutnya…
TERMINOLOGI
- Ernest Cassirer: manusia adalah animal simbolikum Manusia ialah binatang yang mengenal simbol,
misalnya adat-istiadat, kepercayaan, bahasa. Inilah kelebihan manusia
jika dibandingkan dengan makhluk lainnya. Itulah sebabnya manusia dapat
mengembangkan dirinya jauh lebih hebat daripada binatang yang hanya
mengenal tanda dan bukan simbol.
Demikianlah
disebutkan beberapa contoh mengenai bentuk jawaban yang berupa
filsafat. Dari contoh tersebut, filsafat adalah pendalaman lebih lanjut
dari ilmu (Hasil pengkajian filsafat selanjutnya menjadi dasar bagi
eksistensi ilmu). Di sinilah batas kemampuan akal manusia. Dengan
akalnya ia tidak akan dapat menjawab pertanyaan yang lebih dalam lagi
mengenai manusia. Dengan akalnya, manusia hanya mampu memberi jawaban
dalam batas-batas tertentu. Hal ini sesuai dengan pendapat Immanuel Kant dalam Kritiknya terhadap rasio yang murni, yaitu manusia hanya dapat mengenal fenomena belaka, sedang bagaimana nomena-nya
ia tidak tahu. Sehubungan dengan hal tersebut, maka yang dapat menjawab
pertanyaan lebih lanjut mengenai manusia adalah agama; misalnya,
tentang pengalaman apa yang akan dijalani setelah seseorang meninggal
dunia. Jadi, sesungguhnya filsafat tidak hendak menyaingi agama.
Filsafat tidak hendak menambahkan suatu kepercayaan baru. Bertrand Russel mencatat August Comte pernah mencobanya, namun ia gagal. "Dan ia patut bernasib demikian," demikian Russel.
Selanjutnya,
filsafat dan ilmu juga dapat mempunyai hubungan yang baik dengan agama.
Filsafat dan ilmu dapat membantu menyampaikan lebih lanjut ajaran agama
kepada manusia. Filsafat membantu agama dalam mengartikan
(menginterpretasikan) teks-teks sucinya. Filsafat membantu dalam
memastikan arti objektif tulisan wahyu. Filsafat menyediakan
metode-metode pemikiran untuk teologi. Filsafat membantu agama dalam
menghadapi masalah-masalah baru. Misalnya, mengusahakan mendapat anak
dengan in vitro fertilization ("bayi tabung") dapat
dibenarkan bagi orang Kristen atau tidak? Padahal Kitab Suci diam
seribu bahasa tentang bayi tabung. Filsafatlah, dalam hal ini etika,
yang dapat merumuskan permasalahan etis sedemikian rupa sehingga agama
dapat menjawabnya berdasarkan prinsip-prinsip moralitasnya sendiri.
Sebaliknya,
agama dapat membantu memberi jawaban terhadap problem yang tidak dapat
dijangkau dan dijawab oleh ilmu dan filsafat. Meskipun demikian, tidak
juga berarti bahwa agama adalah di luar rasio, agama adalah tidak rasional.
Agama bahkan mendorong agar manusia memiliki sikap hidup yang rasional:
bagaimana manusia menjadi manusia yang dinamis, yang senantiasa
bergerak, yang tak cepat puas dengan perolehan yang sudah ada di
tangannya, untuk lebih mengerti kebenaran, untuk lebih mencintai
kebaikan, dan lebih berusaha agar cinta Allah kepadanya dapat menjadi
dasar cintanya kepada sesama sehingga bersama-sama manusia yang lain
mampu membangun dunia ini.
Dengan
cara menyadari keadaan serta kedudukan masing-masing, maka antara ilmu
dan filsafat serta agama dapat terjalin hubungan yang harmonis dan
saling mendukung. Karena, semakin jelas pula bahwa seringkali
pertanyaan, fakta atau realita yang dihadapi seseorang adalah hal yang
sama, namun dapat dijawab secara berbeda sesuai dengan proporsi yang
dimiliki masing-masing bidang kajian, baik itu ilmu, filsafat maupun
agama. Ketiganya dapat saling menunjang dalam menyelesaikan persoalan
yang timbul dalam kehidupan.
Demikianlah pemahaman yang kita miliki sekarang mengenai terminologi "filsafat" dan kedudukannya di antara ilmu dan agama.
Aliran
Dalam
perjalanannya, problem yang dihadapi oleh manusia makin kompleks,
sehingga membutuhkan jawaban yang kompleks pula. Jawaban yang diberikan
terhadap suatu problem tidak selalu dapat tuntas, bahkan kadang-kadang
hanya sebagian kecil darinya yang terjawab dengan baik. Karena latar
belakang yang berbeda-beda, baik dilihat dari manusianya maupun
tantangan atau problemnya, maka berakibat juga pada beragamnya
bagaimana suatu jawaban diberikan.
Oleh
karena itu, suatu problem yang sama, karena dilihat dari berbagai sudut
dan arah, menimbulkan jawaban yang berbeda. Timbullah bermacam-macam
aliran dalam filsafat.
Manusia
memegang peranan yang penting dalam munculnya aliran-aliran dalam
filsafat. Pada hakikatnya, karena ia mempunyai unsur kejiwaan, yaitu
cipta, rasa dan karsa, maka setiap orang dapat menghasilkan filsafatnya
sendiri. Namun pada sisi yang lain, kenyataan menunjukkan bahwa hanya
orang-orang tertentu yang dapat mengemukakan pendapat serta ajaran yang
bernilai filsafati. Hambatan-hambatan yang ditimbulkan oleh kata dan
susunan kalimat dalam suatu bahasa seringkali memaksa seorang filsuf
untuk menyusun kalimat atau rangkaian kata baru semata-mata untuk bisa
membuat representasi yang mendekati apa yang terkandung dalam
pikirannya. Oleh karena filsafat merupakan hasil permenungan jiwa
manusia yang terdalam, maka corak (sifat, khas) dalam tiap-tiap aliran tidak terlepas dari unsur-unsur yang menyusun manusia itu sendiri.
- Corak yang sesuai dengan unsur jiwa dan raga:
Manusia terdiri atas jiwa dan raga, karenanya filsafat ada yang
menintikberatkan atau mengagungkan jiwa atau memberi tempat yang tinggi
kepada jiwa atau unsur-unsur dalam. Aliran yang termasuk jenis ini
antara lain adalah:
- Idealisme, yang memberi tempat tertinggi pada idea.
- Spiritualisme, yang memberi tempat tertinggi pada jiwa.
- Rasionalisme, yang memberi tempat tertinggi pada akal.
Sebaliknya,
ada yang menempatkan unsur-unsur ragawi, unsur-unsur luar, sebagai yang
tertinggi. Termasuk dalam aliran ini antara lain adalah:
- Materialisme, yang memberi tempat tertinggi pada materi.
- Empirisme, yang memberi tempat tertinggi pada pengalaman.
- Sensisme, yang memberi tempat tertinggi pada panca indera.
- Corak yang sesuai dengan sifat individu dan sosial:
Manusia memiliki sifat individu dan sosial, karena itu pengejawantahan
dari sifat ini terlihat pula dalam corak aliran filsafat.
Ada
yang mengagungkan sifat individunya. Aliran yang termausk jenis ini antara lain adalah:
- Individualisme, yang memberi tempat tertinggi pada individu.
- Liberalisme, yang mengagungkan hak mutlak setiap individu.
Sebaliknya, ada yang mengagungkan sifat sosialnya. Termasuk dalam aliran ini adalah:
- Altruisme, yang mengutamakan kepentingan orang lain semata-mata.
- Sosialisme, yang mengutamakan kepentigan sosial lebih dari kepentingan individu.
Berikutnya…
-
- Corak yang menyangkut hubungan manusia dengan "Yang Mahakuasa":
Dalam hal ini, aliran di dalam filsafat ada yang bercorak teistik, ada pula yang ateistik. Misalnya, Tomisme memberi tempat yang tinggi kepada Tuhan, sedangkan Positivisme menolak teologi.
- Corak perpaduan:
Karena ada aliran kefilsafatan yang menekankan atau mengagungkan salah
satu unsur, maka terjadi jurang pemisah antara keduanya. Karena ada
jurang pemisah itu, timbullah usaha untuk menghubungkan kedua sisinya
yaitu dengan membuat jembatan. Beberapa contoh di antaranya adalah:
- Immanuel Kant (lahir 1724 di Koningsbergen) berusaha menjembatani antara Rasionalisme dan Empirisme.
- G.W.F. Hegel (lahir 1770 di
Stuttgart
) membuat jembatan antara pendapat Fichte dengan pendapat Friedrich Yoseph Schelling.
Sistem fichte adalah idealisme subjektif, sedang Schelling adalah idealisme objektif. Jembatan yang dibuat oleh Hegel adalah idealisme absolut.
Inilah bentuk metode dialektik Hegel yaitu Tesis-Antitesis-Sintesis.
Karena Sintesis pada hakikatnya adalah suatu Tesis Baru, maka dari
padanya akan timbul Antitesis baru, demikian pula akan timbul Sintesis
Baru, dan seterusnya.
Pada
bagian kali ini, kami akan mengangkat satu aliran filsafat yang sangat
berpengaruh di Barat pada abad kedua puluh, terutama setelah selesainya
Perang Dunia Kedua. Ialah "Eksistensialisme". Pembahasan berikut ini
akan menjadi model pembahasan bagi aliran-aliran filsafat lainnya; di
mana kami secara rutin akan menambahkan materi-materi baru dalam bagian
ini, sehingga, mudah-mudahan, seluruh aliran filsafat, utamanya
aliran-aliran yang besar, mendapat kesempatan untuk disajikan ke
hadapan pembaca.
Eksistensialisme
Dalam filsafat dibedakan antara esensia dan eksistensia.
Esensia membuat benda, tumbuhan, binatang dan manusia. Oleh esensia,
sosok dari segala yang ada mendapatkan bentuknya. Oleh esensia, kursi
menjadi kursi. Pohon mangga menjadi pohon mangga. Harimau menjadi
harimau. Manusia menjadi manusia. Namun, dengan esensia saja, segala
yang ada belum tentu berada. Kita dapat membayangkan kursi, pohon
mangga, harimau, atau manusia. Namun, belum pasti apakah semua itu
sungguh ada, sungguh tampil, sungguh hadir. Di sinilah peran
eksistensia.
Eksistensia
membuat yang ada dan bersosok jelas bentuknya, mampu berada, eksis.
Oleh eksistensia kursi dapat berada di tempat. Pohon mangga dapat
tertanam, tumbuh, berkembang. Harimau dapat hidup dan merajai hutan.
Manusia dapat hidup, bekerja, berbakti, dan membentuk kelompok bersama
manusia lain. Selama masih bereksistensia, segala yang ada dapat ada,
hidup, tampil, hadir. Namun, ketika eksistensia meninggalkannya, segala
yang ada menjadi tidak ada, tidak hidup, tidak tampil, tidak hadir.
Kursi lenyap. Pohon mangga menjadi kayu mangga. Harimau menjadi
bangkai. Manusia mati. Demikianlah penting peranan eksistensia.
Olehnya, segalanya dapat nyata ada, hidup, tampil, dan berperan. Adapun
tanpa eksistensia, segala sesuatu tidak nyata ada, apalagi hidup dan
berperan. Berikutnya…
Eksistensialisme adalah aliran filsafat yang menekankan eksistensia.
Para
pengamat eksistensialisme tidak mempersoalkan esensia dari segala yang
ada. Karena memang sudah ada dan tak ada persoalan. Kursi adalah kursi.
Pohon mangga adalah pohon mangga. Harimau adalah harimau. Manusia
adalah manusia. Namun, mereka mempersoalkan bagaimana segala yang ada
berada dan untuk apa berada. Oleh karena itu, mereka menyibukkan diri
dengan pemikiran tentang eksistensia. Dengan mencari cara berada dan
eksis yang sesuai, esensia pun akan ikut terpengaruhi. Dengan
pengolahan eksistensia secara tepat, segala yang ada bukan hanya
berada, tetapi berada dalam keadaan optima. Untuk manusia, ini berarti
bahwa dia tidak sekadar berada dan eksis, tetapi berada dan eksis dalam
kondisi ideal sesuai dengan kemungkinaan yang dapat dicapai. Dalam
kerangka pemikiran itu, menurut kaum eksistensialis, hidup ini terbuka.
Nilai hidup yang paling tinggi adalah kemerdekaan. Dengan kemerdekaan
itu, keterbukaan hidup dapat ditanggapi secara baik. Segala sesuatu
yang menghambat, mengurangi, atau meniadakan kemerdekaan harus dilawan.
Tata tertib, peraturan, hukum harus disesuaikan atau, bila perlu,
dihapus dan ditiadakan. Karena adanya tata tertib, peraturan, hukum
dengan sendirinya sudah tak sesuai dengan hidup yang terbuka dan
hakikat kemerdekaan. Semua itu membuat orang terlalu melihat ke
belakang dan mengaburkan masa depan, sekaligus membuat praktik
kemerdekaan menjadi tidak leluasa lagi.
Dalam
hal etika, karena hidup ini terbuka, kaum eksistensialis memegang
kemerdekaan sebagai norma. Bagi mereka, manusia mampu menjadi seoptima
mungkin. Untuk menyelesaikan proyek hidup itu, kemerdekaan mutlak
diperlukan. Berdasarkan dan atas norma kemerdekaan, mereka berbuat apa
saja yang dianggap mendukung penyelesaian proyek hidup. Sementara itu,
segala tata tertib, peraturan, hukum tidak menjadi bahan pertimbangan.
Karena adanya saja sudah mengurangi kemerdekaan dan isinya menghalangi
pencapaian cita-cita proyek hidup. Sebagai ganti tata-tertib,
peraturan, dan hukum, mereka berpegang pada tanggung jawab pribadi.
Mereka tak mempedulikan segala peraturan dan hukum, dan tidak mengambil
pusing akan sanksi-sanksinya. Yang mereka pegang adalah tanggung jawab
pribadi dan siap menanggung segala konsekuensi yang datang dari
masyarakat, negara, atau lembaga agama. Satu-satunya hal yang
diperhatikan adalah situasi. Dalam menghadapi perkara untuk
menyelesaikan proyek hidup dalam situasi tertentu, pertanyaan pokok
mereka adalah apa yang paling baik yang menurut pertimbangan dan
tanggung jawab pribadi seharusnya dilakukan dalam situasi itu. Yang
baik adalah yang baik menurut pertimbangan norma mereka, bukan
berdasarkan perkaranya dan norma masyarakat, negara, atau agama.
Segi
positif yang sekaligus merupakan kekuatan dan daya tarik etika
eksistensialis adalah pandangan tentang hidup, sikap dalam hidup,
penghargaan atas peran situasi, penglihatannya tentang masa depan.
Berbeda dengan orang lain yang berpikiran bahwa hidup ini sudah
selesai, yang harus diterima seperti adanya, dan tak perlu diubah,
etika eksistensialis berpendapat bahwa hidup ini belum selesai, tidak
harus diterima sebagai adanya, dan dapat diubah, bahkan harus diubah.
Ini berlaku untuk hidup manusia sebagai pribadi, masyarakat, bangsa,
dan dunia seanteronya. Dalam arti itulah hidup dimengerti sebagai
proyek. Orang yang memandang hidup sebagai sudah selesai, mempunyai
sikap pasrah dan "menerima", sementara kaum eksistensialis yang
memahami hidup sebagai belum selesai mempunyai sikap berusaha dan
berjuang. Hidup ini perlu dan harus diperbaiki. Faktor penting untuk
perbaikan hidup itu adalah tanggung jawab. Setiap orang harus
bertanggungjawab atas hidupnya dan dengan sungguh-sungguh berupaya
untuk mengembangkannya. Bagi orang yang merasa hidup sudah jadi,
situasi hidup menjadi sama saja. Tidak ada situasi penting, mendesak,
atau genting. Karena hidup selalu berjalan normal. Namun, bagi kaum
eksistensialis yang memahami hidup belum selesai, setiap situasi
membawa akibat untuk kemajuan kehidupan. Oleh karena itu, setiap
situasi perlu dikendalikan, dimanfaatkan, diarahkan sehingga menjadi
keuntungan bagi kemajuan hidup. Akhirnya, bagi orang yang menerima
hidup sudah sampai titik dan puncak kesempurnaannya, masa depan tidak
amat berperan karena masa depan pun keadaannya akan sama saja dengan
masa yang ada sekarang. Namun, bagi kaum eksistensialis yang belum puas
dengan hidup yang ada dan yang merasa perlu untuk mengubahnya, masa
depan merupakan faktor yang penting. Karena hanya dengan adanya masa
depan itu, perbaikan hidup dimungkinkan dan pada masa depan pula hidup
baik itu terwujud. Dengan demikian,
gaya
hidup kaum eksistensialis menjadi serius, dinamis, penuh usaha, dan optimis menuju ke masa depan. Berikutnya…
Namun,
oleh pandangan-pandangan yang terkandung di dalam dirinya, segi-segi
positif etika eksistensialis itu menjadi berkurang positifnya.
Kelemaham-kelemahan etika eksistensialis dapat disebut beberapa.
Pertama, etika eksistensialis terperosok ke dalam pendirian yang
individualistis. Dengan pendirian itu, di bawah nama melaksanakan
proyek hidup, bisa-bisa para pengikut aliran eksistensialis hanya
mencari dan mengejar kepentingan diri. Karena yang baik ditentukan
sendiri, bukan berdasarkan norma, maka yang dianggap baik bukanlah
kebaikan sejati, melainkan baik menurut dan bagi diri mereka sendiri.
Cara memandang kebaikan yang individualistis itu dapat merugikan
sesama, masyarakat dan dunia.
Kedua,
dengan mengabaikan tata tertib, peraturan, hukum, kaum eksistensialis
menjadi manusia yang anti-sosial. Tidak dapat disangkal bahwa ada norma
masyarakat yang sudah usang. Namun, menyatakan segala norma tak berlaku
sungguh melawan akal sehat. Karena norma masyarakat merupakan hasil
perjalanan pencarian yang tidak begitu saja mudah ditiadakan. Jika
tidak dapat dipergunakan sepenuhnya, paling sedikit masih dapat
bermanfaat sebagai bahan pertimbangan dan titik tolak pencarian nilai
hidup lebih lanjut. Kecuali itu, sikap para penganut aliran
eksistensialis yang asosial merugikan usaha perbaikan hidup dan dunia.
Karena usaha itu merupakan usaha raksasa sehingga tidak dapat
diselesaikan secara perorangan, melainkan harus digarap bersama seluruh
masyarakat.
Ketiga,
dengan mengambil sikap bebas merdeka, kaum eksistensialis memandang
kemerdekaan sebagai tidak terbatas. Padahal, dalam hidup ini tidak ada
kemerdekaan yang tanpa batas. Karena dalam perwujudannya selalu akan
dibatasi. Pembatasan itu berasal dari si pelaksana sendiri dan
masyarakat. Seberapa "hebat"-nya manusia, tidak mungkinlah dia mampu
mewujudkan kemerdekaannya secara penuh. Pembatasan juga datang dari
masyarakat. Selama orang hidup dakam masyarakat, pelaksanaan
kemerdekaan akan selalu dibatasi oleh pelaksanaan kebebasan orang lain.
Mau tidak mau, dalam hidup masyarakat orang harus mau "memberi" dan
"menerima", alias berkompromi.
Keempat,
kaum eksistensialis amat memperhitungkan situasi. Namun, situasi itu
mudah goyah. Kelemahan ini masih diperkuat oleh sikap individualistis
yang dipegang kaum eksistensialis. Bila orang bersandar pada situasi
dan diri sendiri saja, pandangannya menjadi terbatas, lingkup
perbuatannya dipersempit, dan pendiriannya rapuh. Begitulah, etika
eksistensialis memiliki unsur-unsur kebaikan yang positif. Namun, bila
tak mengurangi dan melepaskan kelemahan-kelemahannya, eksistensialisme
akan melemahkan arti dan sumbangan-sumbangannya yang memang berharga.
Nama "eksistensialisme" memang hanya disenangi oleh Jean-Paul Sartre. Filsuf-filsuf lain dari aliran ini lebih senang disebut "filsuf-eksistensi". Di antara mereka adalah S. Aabye Kierkegaard (1813-1855), Friedrich NietzscheKarl Jaspers (1883-1969), Martin Heidegger (1889-1976), Gabriel Marcel (1889-1973) dan M. Merleau-Ponty (1908-1961). Beberapa dari mereka nanti akan dibahas secara khusus di bagian Filsuf, Hidup dan Karyanya situs ini. (1844-1900),